Jumat, 30 Maret 2012

Allah Sebagai Ahli Seni

Pelajaran 11 *10-16 Maret 2012




Allah sebagai Ahli Seni


SABAT PETANG

BACALAH UNTUK PELAJARAN PEKAN INI:

Yesaya 64:5-8; Mazmur 51:10; Ibrani 8:1-5; I Tawarik 23:5; Roma 11:33-36; Kisah Para Rasul 9:1-22


Yesaya 64:5-8

64:5 Engkau menyongsong mereka yang melakukan yang benar dan yang mengingat jalan yang Kautunjukkan! Sesungguhnya, Engkau ini murka, sebab kami berdosa; terhadap Engkau kami memberontak sejak dahulu kala.

64:6 Demikianlah kami sekalian seperti seorang najis dan segala kesalehan kami seperti kain kotor; kami sekalian menjadi layu seperti daun dan kami lenyap oleh kejahatan kami seperti daun dilenyapkan oleh angin.

64:7 Tidak ada yang memanggil nama-Mu atau yang bangkit untuk berpegang kepada-Mu; sebab Engkau menyembunyikan wajah-Mu terhadap kami, dan menyerahkan kami ke dalam kekuasaan dosa kami.

64:8 Tetapi sekarang, ya TUHAN, Engkaulah Bapa kami! Kamilah tanah liat dan Engkaulah yang membentuk kami, dan kami sekalian adalah buatan tangan-Mu.


Mazmur 51:10

Biarlah aku mendengar kegirangan dan sukacita, biarlah tulang yang Kauremukkan bersorak-sorak kembali!


Ibrani 8:1-5

8:1 Inti segala yang kita bicarakan itu ialah: kita mempunyai Imam Besar yang demikian, yang duduk di sebelah kanan takhta Yang Mahabesar di sorga,

8:2 dan yang melayani ibadah di tempat kudus, yaitu di dalam kemah sejati, yang didirikan oleh Tuhan dan bukan oleh manusia.

8:3 Sebab setiap Imam Besar ditetapkan untuk mempersembahkan korban dan persembahan dan karena itu Yesus perlu mempunyai sesuatu untuk dipersembahkan.

8:4 Sekiranya Ia di bumi ini, Ia sama sekali tidak akan menjadi imam, karena di sini telah ada orang-orang yang mempersembahkan persembahan menurut hukum Taurat.

8:5 Pelayanan mereka adalah gambaran dan bayangan dari apa yang ada di sorga, sama seperti yang diberitahukan kepada Musa, ketika ia hendak mendirikan kemah: "Ingatlah," demikian firman-Nya, "bahwa engkau membuat semuanya itu menurut contoh yang telah ditunjukkan kepadamu di atas gunung itu."


I Tawarik 23:5

empat ribu orang menjadi penunggu pintu gerbang; dan empat ribu orang menjadi pemuji TUHAN dengan alat-alat musik yang telah kubuat untuk melagukan puji-pujian," kata Daud.


Roma 11:33-36

11:33 O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya!

11:34 Sebab, siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan? Atau siapakah yang pernah menjadi penasihat-Nya?

11:35 Atau siapakah yang pernah memberikan sesuatu kepada-Nya, sehingga Ia harus menggantikannya?

11:36 Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!


Kisah Para Rasul 9:1-22

9:1 Sementara itu berkobar-kobar hati Saulus untuk mengancam dan membunuh murid-murid Tuhan. Ia menghadap Imam Besar,

9:2 dan meminta surat kuasa dari padanya untuk dibawa kepada majelis-majelis Yahudi di Damsyik, supaya, jika ia menemukan laki-laki atau perempuan yang mengikuti Jalan Tuhan, ia menangkap mereka dan membawa mereka ke Yerusalem.

9:3 Dalam perjalanannya ke Damsyik, ketika ia sudah dekat kota itu, tiba-tiba cahaya memancar dari langit mengelilingi dia.

9:4 Ia rebah ke tanah dan kedengaranlah olehnya suatu suara yang berkata kepadanya: "Saulus, Saulus, mengapakah engkau menganiaya Aku?"

9:5 Jawab Saulus: "Siapakah Engkau, Tuhan?" Kata-Nya: "Akulah Yesus yang kauaniaya itu.

9:6 Tetapi bangunlah dan pergilah ke dalam kota, di sana akan dikatakan kepadamu, apa yang harus kauperbuat."

9:7 Maka termangu-mangulah teman-temannya seperjalanan, karena mereka memang mendengar suara itu, tetapi tidak melihat seorang juga pun.

9:8 Saulus bangun dan berdiri, lalu membuka matanya, tetapi ia tidak dapat melihat apa-apa; mereka harus menuntun dia masuk ke Damsyik.

9:9 Tiga hari lamanya ia tidak dapat melihat dan tiga hari lamanya ia tidak makan dan minum.

9:10 Di Damsyik ada seorang murid Tuhan bernama Ananias. Firman Tuhan kepadanya dalam suatu penglihatan: "Ananias!" Jawabnya: "Ini aku, Tuhan!"

9:11 Firman Tuhan: "Mari, pergilah ke jalan yang bernama Jalan Lurus, dan carilah di rumah Yudas seorang dari Tarsus yang bernama Saulus. Ia sekarang berdoa,

9:12 dan dalam suatu penglihatan ia melihat, bahwa seorang yang bernama Ananias masuk ke dalam dan menumpangkan tangannya ke atasnya, supaya ia dapat melihat lagi."

9:13 Jawab Ananias: "Tuhan, dari banyak orang telah kudengar tentang orang itu, betapa banyaknya kejahatan yang dilakukannya terhadap orang-orang kudus-Mu di Yerusalem.

9:14 Dan ia datang ke mari dengan kuasa penuh dari imam-imam kepala untuk menangkap semua orang yang memanggil nama-Mu."

9:15 Tetapi firman Tuhan kepadanya: "Pergilah, sebab orang ini adalah alat pilihan bagi-Ku untuk memberitakan nama-Ku kepada bangsa-bangsa lain serta raja-raja dan orang-orang Israel.

9:16 Aku sendiri akan menunjukkan kepadanya, betapa banyak penderitaan yang harus ia tanggung oleh karena nama-Ku."

9:17 Lalu pergilah Ananias ke situ dan masuk ke rumah itu. Ia menumpangkan tangannya ke atas Saulus, katanya: "Saulus, saudaraku, Tuhan Yesus, yang telah menampakkan diri kepadamu di jalan yang engkau lalui, telah menyuruh aku kepadamu, supaya engkau dapat melihat lagi dan penuh dengan Roh Kudus."

9:18 Dan seketika itu juga seolah-olah selaput gugur dari matanya, sehingga ia dapat melihat lagi. Ia bangun lalu dibaptis.

9:19a Dan setelah ia makan, pulihlah kekuatannya.

9:19b Saulus tinggal beberapa hari bersama-sama dengan murid-murid di Damsyik.

9:20 Ketika itu juga ia memberitakan Yesus di rumah-rumah ibadat, dan mengatakan bahwa Yesus adalah Anak Allah.

9:21 Semua orang yang mendengar hal itu heran dan berkata: "Bukankah dia ini yang di Yerusalem mau membinasakan barangsiapa yang memanggil nama Yesus ini? Dan bukankah ia datang ke sini dengan maksud untuk menangkap dan membawa mereka ke hadapan imam-imam kepala?"

9:22 Akan tetapi Saulus semakin besar pengaruhnya dan ia membingungkan orang-orang Yahudi yang tinggal di Damsyik, karena ia membuktikan, bahwa Yesus adalah Mesias.


AYAT HAFALAN:

“Satu hal telah kuminta kepada TUHAN, itulah yang kuingini; diam di rumah TUHAN seumur hidupku, menyaksikan kemurahan TUHAN dan menikmati bait-Nya”

(Mazmur 27:4).



POKOK PIKIRAN:

Allah sebagai seniman Apakah artinya itu? Dan apakah maknanya itu bagi kita?



Sejauh ini kita telah melihat berbagai aspek tentang Allah: Trinitas, kekudusan Allah, dan Allah sebagai penebus. Namun, ada satu gambaran dalam Kitab Suci, yang sangat jarang mendapat perhatian, yaitu Allah sebagi ahli seni.

Banyak orang yang mengaku tidak tertarik dengan seni. Banyak orang Kristen yang mengetahui sedikit tentang seni. Mungkin mereka mengetahui apa yang mereka suka, tetapi tidak memiliki pengetahuan lebih daripada itu. Yang lain mengakui bahwa seni itu ada, tetapi mereka tidak pernah memperhatikan nilainya atau kegunaannya. Kekristenan sering mempunyai perasaan yang bertentangan mengenai seni. Kadang-kadang seni dicela sebagai hal yang tidak beragama dan jahat; di lain waktu estetika telah menjadi sebuah “agama” secular dengan pengabdian yang serius. Ada juga banyak penulis Kristen, tetapi mereka jarang membuat usaha untuk menghubungkan konsep “keindahan” kepada doktrin-doktrin utama orang Kristen.

“Keindahan adalah kebenaran, keindahan kebenaran”, tulis puitis John Keats. Ketika Keats dengan yakinnya menekankan hal ini, sesungguhnya Allah adalah Kebenaran,dan kebenaran itu indah. Semua ciptaannya menyaksikan fakta bahwa Allah adalah ahli seni dan pencinta keindahan.


*Pelajari pelajaran pekan ini untuk persiapan Sabat, 17 Maret 2012



Jumat, 23 Maret 2012

PENDALAMAN PELAJARAN 10

Jumat, 9 Maret 2012



PENDALAMAN:
“Doa adalah nafas jiwa. Itu adalah kuasa rohani. Tidak ada sarana kasih karunia lain yang dapat mengantikannya, dan membuat kesehatan jiwa terpelihara. Doa membawa hati dekat kepada Sumber kehidupan, dan menguatkan persendian dan otot pengalaman keagamaan” – Ellen White, Pelayan Injil, Hlm. 226.
“Apabila kita belum menerima pada waktunya perkara-perkara yang kita mohonkan, baiklah kita senantiasa yakin bahwa Tuhan mendengar dan akan menjawab doa-doa kita. Pandangan kita pendek dan kita pun amat banyak kesalahan sehingga kadang-kadang kita memohon hal-hal yang tidak menjadi satu berkat bagi kita, dan Bapa di surge dengan kasih menjawab doa-doa kita dengan memberikan kepada kita yang terbaik—yang pasti kita sendiri akan mendambakannya apabila dengan terang ilahi kita dapat melihat segala perkara sebagaimana adanya. Apabila doa-doa kita nampaknya tidak dijawab, baiklah kita berpaut pada janji itu; karena akan tiba waktunya untuk dijawab, dan kita akan menerima berkat yang amat kita perlukan. Tetapi menuntut agar doa kita dijawab dengan cara tertentu dan sesuai dengan keinginan kita merupakan iman tanpa alasan yang benar. Allah amat bijaksana sehingga tidak mungkin berbuat salah, dan terlalu berkemurahan untuk menahankan sesuatu yang baik bagi mereka yang berjalan dalam kebenaran. Karena itu janganlah takut berharap pada-Nya walaupun Anda tidak segera mendapat jawab atas doa-doamu.”—Ellen White, Kebahagiaan Sejati, Hlm. 108, 109.

PERTANYAAN UNTUK DIDISKUSIKAN:
1. Apakah yang Anda katakana kepada seseorang yang bertanya, “Mengapa harus berdoa, jika Allah mengetahui segala sesuatu sebelumnya?”
2. Siapakah yang tidak bergumul dengan pertanyaan tentang doa yang dijawab dan yang tidak di jawab? Misalnya, seseorang berdoa agar mobil mereka tidak rusak dalam perjalanan dan ketika mobil mereka tidak rusak, mereka menghubungkannya dengan jawaban doa. Ini baik. Tetapi apakah yang Anda katakana kepada seseorang yang juga berdoa, agar anak mereka tidak meninggal, namun anak itu meninggal? Bagaimanakah kita memahami arti semua ini? Atau dapatkah kita menghadapinya?.
3. Apakah peran Roh Kudus dalam kehidupan doa kita? Bayangkan dalam kelas beberapa orang baru datang dan mereka bertanya: “Dapatkah Anda mengajarkan saya apa arti doa? Bagaimanakah seharusnya saya berdoa? Mengapa saya harus berdoa? Dan apakah seharusnya yang saya harapkan? Bagaimanakah Anda menjawab mereka?

RANGKUMAN:
Tentu saja, ada banyak hal mengenai doa yang tidak dapat kita pahami. Tetapi satu hal yang pasti yang perlu diketahui oleh mereka yang berdoa adalah: Bahwa doa akan mengubah kehidupan Anda, dan menjadikan Anda lebih baik, juga.

Rabu, 07 Maret 2012

MEMENUHI SYARAT-SYARAT

Kamis, 8 Maret 2012

MEMENUHI SYARAT-SYARAT

Seseorang duduk di satu restoran, menyantap satu porsi besar makanan berlemak dan satu botol minuman soft driknk. Kemudian ditutup dengan semangkuk besar es krim cokelat dan gula-gula rasa pedas. Malam itu, sebelum tidur (setelah memakan beberapa makanan kecil) dia bertelut untuk berdoa. Bagian dari doa-nya adalah, “Ya, Tuhan, tolonglah saya untuk menurunkan berat badan saya.”

Apakah yang salah dengan cerita ini?

Kenyataannya ialah, kita dapat mengharapkan Allah menjawab doa kita, tetapi di dalam proses itu ada hal-hal yang perlu kita lakukan. Telah dikatakan bahwa kita harus menghidupkan doa-doa kita; artinya, kita perlu melakukan segala sesuatu yang dapat kita lakukan, sekuat tenaga kita, untuk melihat jawaban doa kita. Ini bukanlah humanisme, maupun suatu bentuk kekurangan iman. Sebaliknya, itulah bagian dari bagaimana hidup dengan iman.

“Jika kita berpaling kepada kejahatan, jika kita bergantung kepada sesuatu dosa yang kita sadari, maka Tuhan tidak akan mendengar kita; tetapi doa orang yang menyesal dan bertobat dan hancur hatinya selalu diterima. Jika semua yang diketahui salah telah diluruskan, barulah kita bisa percaya bahwa Allah akan menjawab segala permohonan kita. Jasa kita tidak pernah membuat kita berkenan di hadapan Allah; hanya kebajikan Yesus yang menyelamatkan kita, darah-Nya yang akan menyucikan kita; namun demikian kita mempunyai satu tugas untuk memenuhi syarat-syarat penerimaan”. –Ellen White, Kebahagiaan Sejati, Halaman 108.

Dia tidak mengatakan bahwa kita harus menjadi sempurna agar doa-doa kita di jawab.

Dia juga menjelaskan bahwa penerimaan kita kepada Allah tidak didasarkan atas kita atau kebaikan kita tetapi hanya oleh Jasa-jasa Kristus bagi kita.

Dia mengatakan bahwa kita harus berada dalam sikap iman, kerendahan hati dan berserah pada kehendak Allah agar Dia dapat bekerja dalam kehidupan kita.

Bagaimana ayat-ayat berikut ini menolong kita memahami apa artinya

“memenuhi syarat-syarat?”

(Lihat Ibrani 10:38; Ulangan 4:29; Lukas 9:23; Yohanes 14:15; I Tesalonika 4:3)


Ibrani 10:38

Tetapi orang-Ku yang benar akan hidup oleh iman, dan apabila ia mengundurkan diri, maka Aku tidak berkenan kepadanya."


Ulangan 4:29

Dan baru di sana engkau mencari TUHAN, Allahmu, dan menemukan-Nya, asal engkau menanyakan Dia dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu.


Lukas 9:23

Kata-Nya kepada mereka semua: "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku.


Yohanes 14:15

"Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku.


I Tesalonika 4:3

Karena inilah kehendak Allah: pengudusanmu, yaitu supaya kamu menjauhi percabulan,


Barangkali, dari semua kondisi kita yang memerlukan doa yang efektif, terutama adalah kesadaran kita akan keperluan kita, ketidakberdayaan kita, kesadaran kita bahwa kita adalah orang berdosa yang memerlukan kasih karunia dan bahwa pengharapan kita hanya dalam Tuhan, yang telah melakukan begitu banyak untuk kita.

Menjadi orang sombong, bergantung pada diri sendiri, puas diri adalah resep untuk kehancuran kehidupan rohani.

Hal-hal apakah yang sedang Anda doakan dengan sungguh-sungguh?

Sementara Anda berdoa, Tanya diri Anda sendiri, apakah yang dapat saya lakukan dengan cara yang berbeda yang dapat menolong terkabulnya doa saya untuk sesuatu yang saya sangat perlukan?


KARENA KAMU TIDAK MEMINTA

Rabu, 7 Maret 2011


KARENA KAMU TIDAK MEMINTA


Salah satu pertanyaan yang sering di tanyakan orang-orang yang berdoa adalah. “Bisakah doa-doa saya benar-benar mengerakkan Allah untuk melakukan sesuatu yang Dia tidak ingin melakukannya?” Itu adalah suatu pertanyaan yang logis. Untuk menjawab, kita hanya dapat meneliti Firman Tuhan dan melihat apa yang dikatakannya.

Baca Yakobus 4:2; Lukas 11:9 Yakobus 5:16-18.

Apakah yang dikatakan ayat-ayat ini mengenai doa kita dan tindakan Allah terhadap doa kita?


Yakobus 4:2

Kamu mengingini sesuatu, tetapi kamu tidak memperolehnya, lalu kamu membunuh; kamu iri hati, tetapi kamu tidak mencapai tujuanmu, lalu kamu bertengkar dan kamu berkelahi. Kamu tidak memperoleh apa-apa, karena kamu tidak berdoa.


Lukas 11:9

Oleh karena itu Aku berkata kepadamu: Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.


Yakobus 5:16-18

5:16 Karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh. Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya.

5:17 Elia adalah manusia biasa sama seperti kita, dan ia telah bersungguh-sungguh berdoa, supaya hujan jangan turun, dan hujan pun tidak turun di bumi selama tiga tahun dan enam bulan.

5:18 Lalu ia berdoa pula dan langit menurunkan hujan dan bumi pun mengeluarkan buahnya.


Betapapun banyak doa mengubah kita, dan berdampak kepada hubungan kita dengan Allah dan dengan orang lain, Alkitab jelas sekali menyatakan bahwa doa kita mempengaruhi tindakan Allah. Kita meminta dan Dia merespon, dengan satu cara atau cara yang lian.

Baca Kejadian 18:22-23. Bagaimanakah kita melihat di sini prinsip ini berlaku?


Kejadian 18:22-33

18:22 Lalu berpalinglah orang-orang itu dari situ dan berjalan ke Sodom, tetapi Abraham masih tetap berdiri di hadapan TUHAN.

18:23 Abraham datang mendekat dan berkata: "Apakah Engkau akan melenyapkan orang benar bersama-sama dengan orang fasik?

18:24 Bagaimana sekiranya ada lima puluh orang benar dalam kota itu? Apakah Engkau akan melenyapkan tempat itu dan tidakkah Engkau mengampuninya karena kelima puluh orang benar yang ada di dalamnya itu?

18:25 Jauhlah kiranya dari pada-Mu untuk berbuat demikian, membunuh orang benar bersama-sama dengan orang fasik, sehingga orang benar itu seolah-olah sama dengan orang fasik! Jauhlah kiranya yang demikian dari pada-Mu! Masakan Hakim segenap bumi tidak menghukum dengan adil?"

18:26 TUHAN berfirman: "Jika Kudapati lima puluh orang benar dalam kota Sodom, Aku akan mengampuni seluruh tempat itu karena mereka."

18:27 Abraham menyahut: "Sesungguhnya aku telah memberanikan diri berkata kepada Tuhan, walaupun aku debu dan abu.

18:28 Sekiranya kurang lima orang dari kelima puluh orang benar itu, apakah Engkau akan memusnahkan seluruh kota itu karena yang lima itu?" Firman-Nya: "Aku tidak memusnahkannya, jika Kudapati empat puluh lima di sana."

18:29 Lagi Abraham melanjutkan perkataannya kepada-Nya: "Sekiranya empat puluh didapati di sana?" Firman-Nya: "Aku tidak akan berbuat demikian karena yang empat puluh itu."

18:30 Katanya: "Janganlah kiranya Tuhan murka, kalau aku berkata sekali lagi. Sekiranya tiga puluh didapati di sana?" Firman-Nya: "Aku tidak akan berbuat demikian, jika Kudapati tiga puluh di sana."

18:31 Katanya: "Sesungguhnya aku telah memberanikan diri berkata kepada Tuhan. Sekiranya dua puluh didapati di sana?" Firman-Nya: "Aku tidak akan memusnahkannya karena yang dua puluh itu."

18:32 Katanya: "Janganlah kiranya Tuhan murka, kalau aku berkata lagi sekali ini saja. Sekiranya sepuluh didapati di sana?" Firman-Nya: "Aku tidak akan memusnahkannya karena yang sepuluh itu."

18:33 Lalu pergilah TUHAN, setelah Ia selesai berfirman kepada Abraham; dan kembalilah Abraham ke tempat tinggalnya.


Sekali lagi, apapun kesulitan-kesulitan filsafat yang terkait dengan pemahaman terhadap kebenaran ini. Allah akan menjawab doa umat manusia. Dia berkata bahwa Dia akan menjawab doa kita, dan dengan demikian kita harus mempercayai Dia atas Firmannya.

“Dan umat-Ku, yang atasnya nama-Ku disebut, merendahkan diri, berdoa dan mencari wajah-Ku, lalu berbalik dari jalan-jalannya yang jahat, maka Aku mendengar dari sorga dan mengampuni dosa mereka, serta memulihkan negeri mereka” (II Tawarik 7:14). Apakah yang ayat ini ajarkan kepada kita tentang doa?


II Tawarik 7:14

dan umat-Ku, yang atasnya nama-Ku disebut, merendahkan diri, berdoa dan mencari wajah-Ku, lalu berbalik dari jalan-jalannya yang jahat, maka Aku akan mendengar dari sorga dan mengampuni dosa mereka, serta memulihkan negeri mereka.


Namun, perhatikan, bahwa Allah tidak akan memulihkan negeri mereka hanya karena mereka memintanya. Mereka terpanggil untuk berdoa, tetapi doa hanyalah satu aspek dari kebangunan iman yang harus mereka alami.

Barangkali contoh yang paling penting mengenai prinsip ini adalah: “Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga ia akan mengampuni segala dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan”. (I Yohanes 1:9).

Disini, kita melihat suatu hubungan yang kuat antara doa (dalam hal ini pengakuan) dan tindakan Allah dalam kehidupan kita. Kita mengakui dosa-dosa kita, dan Dia mengampuninya, yang juga suatu proses dimana Dia menyucikan kita dari segala kejahatan. Pemikiran yang jelas tersirat di sini adalah bahwa jika kita tidak berdoa, tidak mengakui dosa kita, maka kita tidak diampuni. Dalam hal ini, tentu saja, Allah bertindak dalam merespons doa-doa kita.